That’s why I want SEMESTA

Cita-cita saya berada di bangku SMA hanyalah satu. Bisa ke luar negeri gratis !

Mungkin karena merasa terpojok atau sudah menjadi keharusan untuk bisa terus mempertahankan prestasi, saya mulai merasakan kehidupan yang tak tenang. Sering kali saya merasa seperti anak bawang di rumah saya sendiri. Sebagian besar manusia yang tinggal di rumah saya adalah makhluk-makhluk yang  sangat prestatif. Terutama, saudara-saudara saya yang masih sangat muda namun sudah bolak-balik keluar negeri untuk mengikuti pertukaran pelajar. Entah mengapa, saya menjadi sangat berambisi untuk bisa pergi ke luar negeri dengan gratis !

Dimulai sejak kelas 9 SMP, di mana saya terpilih sebagai perwakilan sekolah dalam English Speech Contest. Bahasa inggris sudah menjadi bahasa sehari-hari di rumah saya. Mungkin karena pengaruh Bapak Ibu yang bekerja lebih dari 5 tahun di Perusahaan Asing. Ketika itu, pikiran saya benar-benar terbuka, bahwa betapa nikmatnya ketika kita pintar menggunakan bahasa asing. Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke sebuah sekolah internasional.

Tercetuslah nama SMA Semesta. Sekolah ini merupakan sekolah afiliasi antara Pemerintah Indonesia dengan Yayasan PASIAD di Turki. Di mana, dalam kehidupan sehari-hari, kami dituntut untuk selalu menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Turki.

Karena saya paham betul, sekolah ini sering sekali mengirim siswanya untuk belajar di luar negeri, maka saya pun mengeluarkan seluruh energi yang sangat maksimal untuk bisa berprestasi dalam kancah internasional.

Dan akhirnya, hingga saya lulus SMA, saya bisa mengumpulkan 2 prestasi internasional. Pertama, pada tahun 2008, ketika saya terpilih menjadi duta Indonesia dalam memperingati 50 tahun persahabatan emas anatara Indonesia dan Jepang, JENESYS Batch 2- 2008.

Tokyo, Jenesys 2008.

Tokyo, Jenesys 2008.

Kedua adalah ketika saya mengikuti perlombaan Internasional Turkish Olympic dalam bidang lomba Presentasi Bahasa Turki di Ankara-Istanbul Turki pada tahun 2009. Pada kesempatan itu, prestasi ini bisa membawa saya menjadi Top 20 dari 115 negara yang mengikuti kompetisi ini. Hingga akhirnya saya lolos hingga babak final yaitu 9 besar peserta terbaik.

Segala yang saya torehkan dalam cerita SMA, kian menjadi bubuk memori dalam benak saya. Bubuk ini akan terus menerus meresap ke dalam otak dan tertancap dalam mindset ini, bahwa prestasi ini bukan apa-apa. Prestasi hanya akan menjadi sebuah prestasi ketika kita hanya terdiam dan tidak melakukan apa-apa.

Dan kini, saya ingin membuat prestasi ini menjadi sebuah karya. Sebuah rangkaian maestro indah untuk mengharmonikan bangsa ini.

That’s why I want Semesta.

Ankara, 2009

Ankara, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s