Ternyata Tuhan yang Memilih Saya untuk Pergi ke Jepang

Formulir sudah di tangan. Namun, tangan ini belum juga mau bergerak untuk mengisinya. Saya terlalu takut untuk menyentuh formulir yang begitu membuat jantung ini seperti ingin melompat ke luar.

JENESYS 2008 FORM

Sepertinya saya harus segera mengisinya. Kalau tidak, Mama akan mengecek saya apakah saya sudah mengisinya atau belum. Saya tahu, betapa bangganya perasaan Mama ketika saya beritahu bahwa saya akan mendaftarkan diri sebagai duta pertukaran pelajar dari SMA Semesta. Meskipun hanya mendaftarkan diri, Mama saya terdengar begitu bangga dengan prestasi ini. Berbeda dengan saya. Perasaan ini seperti gado-gado antara rasa senang yang meluap, gelisah, khawatir, takut hingga tak bisa tidur.

Akhirnya saya isi formulir itu.

Dengan diikuti perasaan lega untuk kedua kalinya, kiriman sertifikat prestasi dari rumah pun datang menghampiri saya. Papa menyuruh saya untuk mengirimkan semua sertifikat prestasi yang pernah saya peroleh. Dan pada saat itu, ada 11 sertifikat selama saya berada di SMP ! Mulai dari kejuaraan karate, Siswa Teladan, Pemenang English Speech Contest, hingga Pemenang Lomba Tingkat Pramuka.

Dan saya pun mengumpulkan seluruh berkas-berkas itu.

Menunggu.

Saya paling benci untuk menunggu. Apalagi menunggu hal yang segenting ini.

Dua minggu kemudian, ketika saya sudah mulai melupakan tentang formulir itu karena kesibukan saya di kelas olimpiade, datang sebuah pesan dari Mr.Asep. Saya diminta datang untuk ke ruang guru. Saya tidak merasakan apapun. Seperti tidak ada apa-apa.

Ternyata, Mr. Asep mengumpulkan saya dan 9 orang teman saya lainnya, di mana 6 orang berasal dari kelas 11 dan 4 orang termasuk saya berasal dari kelas 10. Ia menjelaskan dengan sangat “menyebalkan”, bahwa akhirnya kami 10 orang adalah peserta pertukaran Jenesys Programme yang lulus di tahap pertama !

Lagi-lagi jantung ini seperti meminta untuk keluar dari tempatnya.

Alhamdulillah, one step ahead !

Sontak saya langsung berteriak dan menghubungi kedua orang tua saya. Namun, saya tidak langsung bergembira begitu saja karena akan ada persiapan berikutnya yang juga amat mendebarkan. Selama kurang lebih 3 bulan kami menunggu hasil dari laporan kepribadian dan profil kehidupan kami yang dikirim ke Pihak JICE (Japan International Cooperation Center).

Selama tiga bulan menunggu, kami berlatih tarian tradisional mulai dari tarian Jawa, hingga tari piring dari Sumatera. Selain itu, saya juga amat rajin membaca buku literatur hingga buku travelling tentang Negeri Sakura itu. Entah mengapa, seperti ada keyakinan yang timbul dari diri saya, kalau saya pasti lolos.

Tiga bulan berlalu, di akhir-akhir latihan menari sudah banyak anak-anak yang terkena dampak dari seleksi alam. Perlahan menghilang bagaikan bayi bunga dandelion yang tertiup angin. Saya tetap memaksakan diri saya untuk tetap berlatih menari. Meskipun hanya sendiri. Saya tetap yakin, bahwa Tuhan Maha Adil.

Tepat di hari Sabtu, ketika itu saya demam tinggi dan sedang mengalami dismenorhea, penyakit bulanan khusus kaum hawa. Saya tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidur. Bahkan saya membolos dari pelajaran “Membaca Buku”(yang setahu saya hanya ada di SMA Semesta saja😀 ). Tiba-tiba telepon asrama berbunyi nyaring, dan bik ti’ah (salah satu bibik yang kontribusinya cukup besar di asrama kami)berteriak, “Nduk Aniiinnn..iki lho, onok telepon…“(dengan dialek khas Semarang-an) Waduh, siapa itu. Saya dilema, antara turun ke bawah atau berteriak dari kamar. Namun, teman-teman di kamar saya langsung berteriak “Bik, Anin-nya sakit. Nggak bisa turun..” Kurang dari 30 detik Bik Ti’ah berteriak kembali “Nduk, loro opo kowe ? Ini lho, ada telepon dari Lembaga.” Lembaga adalah kata-kata yang biasa warga Semesta gunakan untuk menyebut kantor administrasi sekolah ini.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa saya turun ke bawah. Namun ternyata, teleponnya sudah dimatikan. wtf.

Dengan tertatih-tatih saya kembali ke lantai 3 untuk berbaring di kamar. Tak lama kemudian handphone saya berdering dan saya melihat tulisan “MAMA”. Saya pun segera mengangkat telepon itu.

“Dek, Selamat ya ! Akhirnya berangkat ke Jepang juga !” suara Mama terdengar sangat nyaring gembira. Saya pun bingung setengah mati. “Apaan sih, Ma ?”

Mama pun menjelaskan bahwa ada pihak Jenesys yang menghubungi nomor telepon Papa, karena pada saat itu hp saya tidak aktif dan memberitahukan bahwa saya lulus Pertukaran Pelajar ke Jepang dalam JENESYS Programme 2008.

Rombongan Indonesia JENESYS Batch 2 Kyoto, 2008

Rombongan Indonesia JENESYS Batch 2 Kyoto, 2008

Saya tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menangis bahagia :’)

Alhamdulillah, seorang Anindita kini bukanlah menjadi anak bawang di rumah karena saudara-saudara saya sudah banyak yang pergi ke Amerika, Jepang dan Australia.

Saya bergegas mengangkat telepon asrama dan ternyata itu berasal dari Lembaga. Mba Nuke, pegawai administrasi menyatakan bahwa saya harus segera pergi ke Lembaga untuk mengatur kontrak dengan sekolah. Saya pun berlari menuju Lembaga, tanpa menghiraukan kondisi badan saya yang sangat lemah saat itu.

Ternyata Tuhan memang memilih saya untuk pergi ke Jepang.

One thought on “Ternyata Tuhan yang Memilih Saya untuk Pergi ke Jepang

  1. ternyata perjalananmu seru ya nin .___.
    aku nggak seseru itu walopun akhirnya keberadaanku jadi yang ke-41 dari 40 orang yang ke Kanto agak menyebabkan merinding
    selamat yaa sudah pernah ke sini
    there must be something behind every trip
    there must be something behind every meeting
    and I’m glad to ever meet and know you in various ways ^^
    semangat terus nin!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s