Mimpi Pergi ke Jepang-lah yang Menyodorkan Dirinya Sendiri

Hal yang paling saya anggap konyol sepanjang hidup saya adalah kisah saya yang satu ini.

Ketika itu saya masih menjadi bocah kecil berumur 16 tahun. Di mana rok kotak-kotak merah dan polo shirt merah masih menjadi kostum kebanggaan saya. Saya duduk di bangku kelas 10 SMA Semesta kala itu. Usai pelajaran bahasa inggris, tanpa sengaja guru bahasa Inggris saya, Mr. Asep (sundanese😀 ) lupa membawa daftar absen kelas. Sontak, saya langsung berlari mengejar guru favorit kami kala itu. Namun ternyata, dia berlari begitu cepat dan terkesan terburu-buru untuk masuk ke kelas. Saya tidak tahu, kelas apakah itu.

Begitu saya mengetuk pintu kelas itu dengan jantung yang berbunyi nyaring, maklum saat itu saya adalah siswa baru yang baru selesai mengalami Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang luar biasa cukup “menyenangkan”. Mr.Asep langsung dengan sigap membuka pintu kelas dan berteriak “Aaaa, Come in Anindita, sit there !” Saya bingung, dan saya pun segera menjawab “Sorry sir, actually i just wanna give you this book” sambil menunjukkan buku absen kelas yang ada di tangan saya. “Okay no problem, just sit and join in this class.”

Antara bingung dan tidak mengerti, sebenarnya. Namun, saya pun duduk dengan tatapan kosong. Lama kelamaan saya menyadari, bahwa ternyata di kelas itu kebanyakan terdiri dari abi dan abla (panggilan dalam bahasa turki; abi : kakak laki-laki, abla : kakak perempuan) dari kelas 11. Dan ketika saya melihat sekeliling saya, terlihat beberapa teman-teman saya di kelas 10 namun berasal dari kelas yang berbeda. Perasaan ini pun semakin bercampur aduk. Kelas apakah ini.

Mr. Asep pun memulai presentasinya. Ia ternyata menjelaskan sebuah program yang sangat menarik ! Program pertukaran pelajar Indonesia ke Jepang selama 2 minggu. Program ini bernama JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths). Jenesys 2008 merupakan program bentuk 50 tahun persahabatan emas antara Indonesia dengan Jepang. Mr. Asep mulai menjelaskan satu per satu proses seleksinya, hingga akhirnya membagikan formulir untuk mendaftarkan diri kami ke dalam program itu. Perasaan ini semakin berkecamuk. Akhirnya mimpi yang saya terus kejar setiap detik, justru datang menghampiri saya dengan sendirinya, layaknya penjual koran yang menghampiri pengemudi mobil di lampu merah.

Sungguh, jika saya tidak mengejar Mr. Asep, mungkin mimpi ini tidak akan terkejar.

Namun ternyata, Tuhan memang mentakdirkan saya supaya bisa pergi ke Jepang.

One thought on “Mimpi Pergi ke Jepang-lah yang Menyodorkan Dirinya Sendiri

  1. so it’s really a fate isn’t it?? ^^
    glad to know you can catch your dream
    even till now, you’re keep struggling to reach the top
    keep spirit and make your another dream come true ^^
    頑張ってください

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s