ANAK-ANAK INDONESIA MISKIN LAGU ANAK-ANAK

mengapa hatiku cenat-cenut setiap ada kamu…”

Mungkin kita sudah tidak asing dengan lirik lagu itu. Itu adalah cuplikan lagu dari boy band papan atas Indonesia, yang kerap kali terdengar, di mana pun kita  berada.
Tidak ada yang aneh dengan lirik tersebut. Yang aneh adalah, ketika lagu ini dinyanyikan oleh seorang bocah laki-laki berumur 5 tahun.
Naluri meniru anak-anak memang sangat tajam di usia tersebut. Mungkin jika hal ini terjadi satu atau dua kali saja, itu tidak masalah. Yang jadi permasalahan adalah, peristiwa ini kerap terjadi, bahkan dialami oleh seluruh anak di Indonesia.
Ya, kasus ini memang tidak ditujukan hanya untuk lagu ini saja. Hal ini ditujukan untuk lagu  yang mempunyai lirik yang sekiranya ditujukan untuk orang dewasa atau para remaja. Karena ketika sang anak menyanyikan lagu yang memiliki lirik yang tidak sesuai dengan umur mereka,  hal ini akan mengganggu psikologis mereka.
Anak-anak akan cenderung lebih mempelajari masalah orang dewasa atau dewasa sebelum waktunya. Sehingga dewasa ini, tidak jarang kata-kata “pacaran” lazim diucapkan oleh anak-anak di bawah umur bahkan di Taman Kanak-Kanak sekalipun mereka sudah mengenal istilah “berpacaran”, suka, cinta dan lain-lainnya.
Kita memang hidup di zaman yang sangat hi-tech, di mana semua informasi sangat mudah untuk di akses. Namun, ketika arus globalisasi menimpa anak-anak di bawah umur, sudah seharusnya kita sebagai pihak pembimbing, pendidik dan orang tua bisa mengarahkan mana yang baik dan mana yang buruk untuk anak-anak di sekitar kita.
Mengapa para komposer lagu di Indonesia saat ini tidak ada yang tertarik untuk membuat lagu anak-anak ?
Itulah yang selalu terngiang dalam benak saya. Coba saja, jika mereka membuat lagu yang bagus, lagu yang easy listening untuk anak-anak, pasti lagu itu akan laku keras.
Apakah para komposer Indonesia sudah kehabisan ide kreatifnya untuk membuat lagu anak-anak ?
 
Jika iya, sungguh ironis sekali kehidupan anak-anak di era se-modern ini. Menurut saya, mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung karena tidak bisa menikmati kehidupan mereka yang sesungguhnya. Kehidupan mereka yang tidak ditutupi oleh kabut permintaan pasar.
Mengapa permintaan pasar ?
Ya, itulah Indonesia. Kebanyakan entrepreneurship di Indonesia adalah berusaha memuaskan keinginan pasar. Jika di dalam industri musik, para produsen akan melihat, musik seperti apa yang pasar inginkan ? Apakah  lagu-lagu melankolis melayu yang mendayu-dayu? Ataukah lagu yang dibawakan oleh penyanyi yang berduet sehingga bisa dibuat sebagai buah bibir (gossip) ?
Itulah negeri kita.
Jika kita mengamati di era tahun 90-an, lagu-lagu anak-anak sangat marak di pasaran. Mungkin jika Anda seusia saya, mungkin Anda masih ingat lagu-lagu seperti, Katanya (Trio Kwek Kwek), Cilukba (Maisy), Aku Cinta Rupiah (Cindy Cenora), Dubidamdam (Dhea Ananda) dan lagu-lagu anak-anak lainnya.
Tanpa disadari atau tidak, ketika kita masih kecil, lagu-lagu yang sering kita dengarkan, atau sesuatu yang berada di sekitar kita, secara tidak langsung akan membentuk pola tingkah laku kita. Ketika kita mendengarkan lagu Bang Bing Bung (Saskia dan Giovanni), maka secara tidak langsung, hal itu memotivasi kita untuk menjadi rajin menabung.
Saya tidak mengatakan bahwa kualitas lirik lagu industri musik saat ini menurun. Namun, jika lirik itu disebarkan dan dipopulerkan di kalangan anak-anak yang belum bisa mencerna dengan baik apa makna lagunya, tentu hal ini akan menjadi hal yang tidak baik bagi perkembangan anak-anak.
Salah satu solusinya adalah, mari ciptakan lagu untuk anak-anak Indonesia.
Karena musik adalah kehidupan, maka ketika Anda menciptakan lagu, sesungguhnya Anda memberikan sebuah kehidupan untuk mereka .

4 thoughts on “ANAK-ANAK INDONESIA MISKIN LAGU ANAK-ANAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s