66 tahun yang belum siap ber-bhineka tunggal ika

Berapa umur Indonesia saat ini ?

2011-1945 = 66. ya, benar. Indonesia, sang ibu pertiwi, nusantara, tanah air, negeriMU ini sudah berumur 66 tahun. sudah bukan seorang anak muda lagi. sudah bukan abg lagi, sudah bukan seorang “remaja labil” lagi. 66 tahun adalah usia yang cukup tua, di mana seharusnya negara ini bukan lagi menjadi “negara yang labil”. seharusnya, negara ini sudah menjadi negara yang siap. negara yang dewasa. negara yang mandiri. namun kenyataannya ?

Bhineka Tunggal Ika pun belum.

saya di sini tidak mau menjelek-jelekkan negara saya. saya cinta tanah air saya. mungkin ini adalah bentuk kepedulian saya terhadap salah satu fenomena yang cukup “epic” di Indonesia.

masih ingatkan slogan / jargon negara kita ?

Bhineka tunggal ika.

ya, benar. berbeda-beda tetap satu jua. sudah siapkah Indonesia untuk menjalaninya ? atau saya ubah pertanyaan saya : “sudah siapkah ANDA menjalaninya ?”

saya rasa, belum adalah jawaban yang paling tepat.

Bagi saya, ketika kita masih merasa sebal melihat banyak “kaum etnis china” yang bergaya super harajuku di beberapa mall, atau masih belum mau bertoleransi menghargai teman teman kita beribadah ke pura, atau masih sering merasa kesal ketika salah satu staff atau anggota rapat kita tidak bisa menghadiri rapat atau “ngerjain tugas bareng” karena mereka harus beribadah di hari minggu, atau  kita merasa terganggu, ketika kita harus menunda acara “makan-makan” karena menghormati salah satu teman kita yang sedang berpuasa, itu sama saja menunjukkan bahwa kita BELUM siap untuk ber-bhineka tunggal ika.

ironis. sudah 66 tahun, tetapi mengapa kita belum bisa dewasa, kawan ?

toh manusia lahir diciptakan untuk menjadi makhluk sosial, makhluk yang bisa bertoleransi satu sama lainnya.

ingat, ini adalah pelajaran PPKN ketika kita duduk di bangku sekolah dasar. semudah itukah kita melupakannya ?

mari, kawan. hentikan peperangan. hentikan pertikaian. hentikan perselisihan, hanya karena kita berbeda ras, suku dan agama. bukankah seharusnya kita saling menghormati ? bukankah seharusnya kita saling menghargai ? dan bukankah seharusnya kita saling ber-empati ?

setidaknya, di hari ini ucapkanlah “selamat natal” kepada sahabat terbaik kita, tetangga terbaik kita atau bahkan keluarga terbaik kita.

entah siapapun kita,. berbeda ataupun tidak dengan mereka, hargailah mereka.

“selamat natal kepada semua yang merayakannya”

-jakarta, 25 desember 2011″

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s